Latest Updates
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Penyakit Kulit Eksim dan Alergi Makanan Pada Bayi

Penyakit kulit eksim ternyata memainkan peran penting dalam sensitivitas terhadap alergi makanan pada bayi, menurut penelitian terbaru para ilmuwan dari Inggris.


Menurut para peneliti dari King’s Collage London dan University of Dundee, Inggris, mereka menemukan kaitan bahwa penyakit kulit eksim mungkin merupakan faktor penting dalam pengembangan alergi makanan pada bayi.

Mereka mengatakan, “Ini merupakan studi yang sangat menarik dan memberikan bukti lebih lanjut, bahwa penghalang yang mengganggu kulit dan eksim bisa memainkan peran kunci dalam memicu sensivitas makanan pada bayi, sehingga akhirnya bisa mengarah pada berkembangnya alergi makanan pada bayi. Hal ini dikatakan oleh Dr. Carsten Flohr, dari King Collage, London, pada sebuah rilis berita dari pihak universitas.

Menguti sumber WebMD, menurut para peneliti, penemuan kaitan penyakit kulit eksim ini menunjukkan, bahwa alergi makanan pada bayi dapat berkembang melalui sel-sel kekebalan di dalam kulit, dibandingkan dengan dalam usus, dan bahwa hasil temuan juga menunjukkan bahwa penyakit kulit eksim dapat memainkan peran kunci dan target potensial untuk mencegah alergi makanan pada anak-anak.

Hubungan antara eksim dan alergi makanan memang telah dikenal sejak lama, namun studi yang diterbitkan dalam Journal of Dermatology Investigative, belum lama berselang ini, semakin menambah kuat bukti yang berkembang, bahwa perbedaan kulit memainkan peran dalam prosesnya, papar para peneliti.

Penelitian ini telah melibatkan lebih dari 600 bayi, berusia 3 bulan yang mendapat air susu ibu secara ekslusif sejak mereka lahir – Yang kemudian mereka diuji untuk tes eksim dan diperiksa, untuk melihat apakah para balita tersebut termasuk yang peka terhadap enam makanan yang dikenal paling umum dapat menimbulkan alergi. 

Putih telur menduduki urutan pertama sebagai penyebab alergi yang paling umum, diikuti oleh susu sapi dan kacang. Semakin parah suatu penyakit kulit eksim, maka semakin kuat kaitannya kepada sensivitas makanan, hal ini terpisah dari faktor genetik.

Para peneliti meyakini bahwa kerusakan pada kulit bayi akibat eksim, meninggalkan imun aktif kekebalan yang ditemukan di kulit telah terpapar oleh alergen lingkungan – Dalam kasus ini, protein makanan – yang kemudian memicu respon imun alergi, papar para peneliti menjelaskan.

Mereka juga mencatat bahwa sensivitas makanan tidak selalu menyebabkan alergi makanan pada bayi dan mereka juga melakukan tindak lanjut terhadap bayi-bayi tersebut dalam penelitian ini. “Dalam pekerjaan ini kita mengambil apa yang kita pikir tahu tentang eksim dan alergi makanan dan membalikannya di kepala. Kami berpikir bahwa alergi makanan dipicu dari luar ke dalam melalui kulit, ujar peneliti utama, Dr Carsten Flohr menjelaskan.

"Hambatan di kulit memainkan peran penting dalam melindungi kita dari alergen akibat paparan lingkungan diskeitar kita, dan kita bisa lihat di sini bahwa ketika penghalang berkompromi, terutama terutama terhadap eksim, tampaknya telah meninggalkan sel-sel kekebalan di kulit yang terpapar akibat alergen tersebut."

Ia menambahkan, temuan kaitan penyakit kulit eksim dengan alergi makanan pada bayi ini telah membuka kemungkinan, bahwa memperbaiki penghalang kulit dan mencegah eksim, itu mungkin bisa untuk mengurangi resiko alergi terhadap makanan, ujar Dr Carsten Flohr menambahkan.

Author: Google Plus

Berbagi Rekam Medis Pasien Online di Selandia Baru

Berbagi rekam medis pasien secara online untuk para tenaga profesional medis, telah diberlakukan di Wellington, Selandia Baru, yang sangat berguna bagi pasien pada keadaan darurat.


 
Pemerintah Wellington, melalui District Health Board (DHB) menegaskan bahwa langkah berbagi rekam medis pasien ini akan dapat menyelamatkan banyak nyawa, terutama pada keadaan darurat.

Namun kebijakan ini juga dinilai bisa meningkatkan resiko pada rincian medis kesehatan pasien yang bisa dilihat oleh banyak petugas medis. Namun dengan adanya data rekam medis pasien secara mendetail ini, bagi sesama profesional medis akan bisa membuka informasi rekord medis pasien dengan cepat, bilamana diperlukan pada kondisi darurat bagi pasien. Hal ini juga menyangkut data dari Departemen Emergency dan dokter spesialis.

Mengutip sumber StuffNews, rincian data rekam medis sekitar 80% pasien dari Wellington baru-baru ini telah di upload, oleh semua unit gawat darurat disana, serta catatan dari sekitar 1100 dokter telah bisa diakses oleh semua petugas medis dalam dua minggu terakhir ini.

Sistem ini diluncurkan oleh The Capital and Coast District Health Board bersama Menteri Kesehatan New Zealand, Tony Ryall. Tony Ryall mengatakan, bahwa kebanyakan orang merasa terkejut ketika mengetahui bahwa dokter mereka telah berbagi informasi dengan dokter lain dalam merawat mereka.

Namun sebaliknya ia juga memberikan jaminan, bahwa informasi pribadi itu tidak akan bisa bocor, karena rekam medis pasien tersebut tersebut hanya bisa diakses selama satu kali dalam satu waktu.

Sementara itu, Peter Hicks, support services direktur DHB, mengatakan, sebelum memiliki akses catatan medis, para staf gawat darurat seringkali tidak mengetahui adanya alergi obat atau alergi pasien terhadap obat, padahal sementara itu pasien membutuhkan perawatan mendesak saat itu juga.

Jika departemen kesehatan tidak bisa melacak data rekam medis pasien, maka mereka dipaksa untuk menjalani tes ulang, ini bisa menjadikan penundaan, ketika kebutuhan pengobatan secara cepat bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati pasien. Ini adalah langkah penyelamatan “Kehidupan.”

Ia menambahkan, meski ada peningkatan yang inheren dengan resiko privasi dengan berbagi informasi, namun bisa dikelola dengan seimbang dan memberikan manfaat besar bagi pasien, katanya. Layanan berbagi informasi medis di Wellington ini adalah bagian dari upaya dan dorongan pihak pemerintah untuk berbagi informasi pasien di era digital saat ini.

Sejalan dengan proses ini, direncanakan dalam waktu dekat, pemerintah Wellington, Selandia Baru juga merencanakan bahwa rekam medis pasien juga akan dikembangkan bersama dengan portal pasien, dimana memungkinkan para pasien untuk bisa mengakses catatan kesehatan medis mereka sendiri dan bisa berkomunikasi dengan dokter langganan mereka secara online.

 
Author: Google Plus  

Pengobatan Baru Membuat Sel Kanker Meledak

Pendekatan pengobatan baru yang bisa membuat sel kanker meledak, telah ditemukan oleh para peneliti dari Karolinska Institutet di Swedia. Mereka menemukan substansi zat utama yang disebut dengan nama Vacquinol – 1, telah membuat sel-sel dari glioblastoma, yaitu jenis sel yang paling agresif dari tumor otak, benar-benar membuat sel kanker meledak, secara harfiah.


 
Saat ini perawatan yang tersedia untuk penderita glioblastoma, termasuk operasi, radiasi dan kemoterapi. Namun meskipun demikian, sejauh ini, pengobatan yang ada hanya memberikan kelangsungan hidup pasien secara rata-rata hanya sekitar 15 bulan saja. Oleh karena itu sangat penting untuk menemukan pengobatan baru yang lebih baik untuk mengobati tumor otak ganas.

Mengutip sumber dari laman resmi Karolinka Instituet, para peneliti mereka, dalam percobaan di lab, memberikan zat Vacquinol – 1, kepada tikus percobaan dan memberikan hasil yang menggembirakan, menghambat pertumbuhan tumor serta memberikan kelangsungan hidup yang lebih lama pada tikus percobaan. Hasil temuan pengobatan terbaru ini, telah dipublikasikan dalam jurnal Cell, beberapa hari yang lalu.

Para peneliti di Karolinska Institutet beserta koleganya dari Uppsala University tersebut telah menemukan mekanisme yang benar-benar baru untuk membunuh sel-sel tumor di glioblastoma.

Pada tahapan awal, para peneliti memaparkan sel kanker secara luas pada berbagai macam molekul.

Ketika kemudian ditemukan bahwa sel-sel kanker tersebut mati, molekul itu dianggap menarik untuk dilakukan studi lebih lanjut, yang pada awalnya hanya diterapkan pada sekitar 200 jenis molekul. Kemudian setelah dilakukan penelitian penelitian yang luas, salah satu molekul telah diidentifikasi sebagai peartikular yang menarik.

Selanjutnya para peneliti ingin mengetahui, mengapa hal ini bisa menyebabkan kematian pada sel kanker.

Ditemukan bahwa ternyata molekul memberikan sel-sel kanker yang tidak terkendali, sebuah proses di mana sel tersebut membawa zat dari luar sel ke dalam interior. Proses membawa ini dibuat melalui vakuola, yang secara kasar dapat dideskripsikan sebagai lepuh atau kantong yang terdiri dari membran sel.

Proses ini mirip dengan apa yang ada di balik kemenangan pemenang Nobel Prize tahun lalu dalam Fisiologi atau Kedokteran, suatu penemuan yang menggambarkan bagaimana vesikel seluler itu memindahkan “barang-barang” dari dalam sel ke permukaan.

Ketika sel-sel kanker tersebut yang telah diisi dengan sejumlah besar vakuola, membran sel ( dinding luar dari sel ) menjadi runtuh dan meledak.

"Ini adalah mekanisme yang sama sekali baru untuk pengobatan kanker. Sebuah obat mungkin didasarkan pada prinsip ini, karena itu akan menyerang glioblastoma dalam cara yang sama sekali baru.

Prinsip ini juga dapat bekerja untuk penyakit kanker lainlnya, kami belum sepenuhnya mengeksplorasi hal ini," ujar Patrik Ernfors, seorang profesor biologi jaringan dari Department of Medical Biochemistry and Biophysics, Karolinska Institutet.

Para peneliti kemudian melakukan percobaan dengan tikus, dengan melakukan transplantasi sel-sel gliobastoma manusia untuk ditelan oleh para tikus selama lima hari.

Hasilnya menunjukan, terjadi kelangsungan hidup selama sekitar 30 hari, bagi kelompok (tikus) yang tidak menerima zat. Namun diantara tikus yang menerima zat tersebut, diketahui, 6 dari 8 tikus percobaan masih bertahan hidup selama 80 hari kemudian. Penelitian ini dianggap menarik, sehingga segera dipublikasikan dalam artikel.

Profesor Patrik Ernfors, mengatakan, " Kami sekarang ingin mencoba untuk mengambil penemuan ini kedalam penelitian dasar melalui pengembangan praklinis dan semua jalan ke klinik. Tujuannya adalah untuk masuk pada fase 1 percobaan,” katanya.

Penelitian ini didanai oleh beberapa lembaga penelitian besar, antara lain,: Swedish Research Council, Swedish Cancer Society, Swedish Foundation for Strategic Research, the Brain Foundation, Hållsten's Research Foundation, Torsten Söderberg Foundation dan Wallenberg Scholar.

Author: Google Plus 
 


Tanaman Tembakau Bisa Memerangi Kanker

Ternyata tidak semua tanaman tembakau merugikan, bahkan tanaman tembakau disebutkan bisa memerangi kanker secara efektif. Pernyataan ini dikemukakan oleh para ilmuwan Australia pada penelitian terbaru mereka, yang dipublikasikan pada beberapa hari silam.




Menurut penelitian terbaru ini, para ilmuwan Australia telah berhasil menemukan bahwa tanaman tembakau, yang dikenal publik identik dengan rokok dan kanker paru-paru, ternyata justeru dapat dimanfaatkan untuk memerangi kanker. Menurut pernyataan mereka, tanaman tembakau ini bisa menjadi senjata ampuh dalam memerangi kanker.

Menurut peneliti utama, Dr Mark Hulett dari La Trobe institute for molecular science di Victoria, Australia, memang ada beberapa ironi, namun walau bagaimanapun ini adalah penemuan original, jelasnya.

Mengutip sumber SkyNews Australia, penelitian terbaru mengenai tanaman tembakau ini telah dirilis dalam jurnal ilmiah eLife – Yang menyebutkan, ini adalah fitur yang menjanjikan, dimana tanaman tembakau tersebut, diketahui mengandung molekul yang secara khusus menargetkan melawan sel-sel kanker. Dr Mark Hulett  menjelaskan, “Salah satu masalah terbesar dalam pengobatan kanker selama ini, bahwa pengobatan itu adalah tidak pandang bulu.

Dilansir oleh harian berpengaruh di Inggris, The Guardian, Dr Mark Hulett  meyakini bahwa penelitian  terhadap tanaman tembakau ini akan menghasilkan suatu obat baru untuk memerangi kanker dan mungkin juga suatu jenis antibiotik baru untuk melawan infeksi. Molekul ini ditemukan dalam bunga tanaman tembakau hias yang berwarna-warni – yang berasal dari varietas keluarga yang sama seperti varietas tembakau komersial yang dipergunakan pada industri rokok.

Sementara rekannya, Dr Marc Kvansakul, mengatakan "Ini adalah jalan yang tak terduga untuk melawan penyakit ," katanya.  Ia dan timnya akan bertanggung-jawab untuk menjelaskan bagaimana proses itu bekerja.

Menurut para ilmuwan tersebut, “Kami telah menemukan emas ditempat yang tak terduga. Sebenarnya tanaman tembakau itu tidak buruk. Hanya apa yang kita perbuat dengan itulah yang buruk,” papar para ilmuwan. “Kami sangat tertarik mengenai penelitian ini. Ini telah dikerjakan selama beberapa tahun dan ini menjadi sangat menarik.”

Penelitian terbaru pada tanaman tembakau ini sekaligus menambah pengetahuan mereka tentang molekul dalam semua tumbuhan dan hewan yang berfungsi membentuk garis pertahanan tubuh pertama terhadap serangan penyakit.

"Hingga saat ini, tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana molekul itu benar-benar melakukan pekerjaan mereka," ujar Hulett.

Merokok memang membawa keburukan bagi tubuh, namun tanaman tembakau bila digunakan dengan benar, ternyata sangat bermanfaat bagi pengobatan. 


 
Author: Google Plus  
 

Pengobatan Migrain Dengan Perangkat Elektrik Headband

Pengobatan Migrain dengan menggunakan perangkat elektrik headband (Cefaly) telah mendapat persetujuan dari FDA (Food and Drug Administration), Badan Pengawas Peredaran Obat dan Makanan di Amerika Serikat. 




Hingga saat ini pengobatan migrain dengan menggunakan headband, suatu perangkat elektrik seperti headphone tanpa mengkonsumsi obat-obatan medis ini merupakan yang pertama kali disetujui oleh FDA, sejak badan pengawas obat dan makanan itu didirikan. Selasa kemarin (02/04), FDA telah mengeluarkan persetujuan penjualan produk Cefaly Migraine & Headache Treatment, untuk diresepkan kepada penderita migrain.

Produk ini dibuat dari plastik yang dilengkapi dengan elektroda kecil, menggunakan tenaga baterai bermuatan listrik rendah, yang bekerja menstimulasi saraf, dengan aliran listrik yang sangat kecil untuk mencegah migrain atau yang lebih dikenal dengan sebutan sakit kepala sebelah.

Penggunaan perangkat untuk pengobatan migrain ini dipakai selama sekitar 20 menit setiap hari untuk mencegah migrain, pengobatan migrain ringan, karena merangsang saraf kranial yang berhubungan nyeri migrain, dengan sensasi seperti terasa kesemutan kecil atau seperti “memijat” di bagian kepala yang terasa nyeri. 

Produk Cefaly ini dibuat oleh salah satu perusahaan teknologi berbasis di Belgia, Eropa. Namun kini alat pengobatan migrain ini telah diproduksi di Amerika Serikat dan telah tersedia secara luas di Kanada, Eropa dan Australia.

FDA menyetujui pengobatan migrain dengan memakai headband ini berdasarkan pada hasil uji klinis terhadap 67 orang penderita migrain di Belgia – Yang hasilnya menunjukan bahwa mereka yang menggunakan perangkat headband tersebut mengalami kemajuan yang signifikan dari penderitaan nyeri kepala akibat penyakit migrain yang dialami mereka selama ini, dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo atau mengkonsumsi obat sakit kepala saja.

Namun perangkat ini hanya diresepkan bagi penderita migrain yang telah berusia 18 tahun keatas, sebagai catatan penting, alat ini tidak bisa menghilangkan penyakit migrain sama sekali, namun juga tidak membuat sakit migrain menjadi lebih parah, mengutip sumber dari NewYork Daily.

Sekitar 53 % penderita migrain dalam studi yang terpisah, merasa cukup puas, dan mereka mengatakan akan membeli perangkat ini nantinya, meskipun mereka juga mengeluhkan perasaan tidak nyaman saat mengenakan alat pengobatan migrain tersebut, serta efek mengantuk setelah memakai perangkat itu. Pengobatan migrain dengan menggunakan perangkat headband ini, belum ditemukan adanya laporan efek samping yang serius.

Migrain adalah sakit kepala yang cukup parah, melebihi sakit kepala biasa, serangan penyakit migrain biasanya bisa berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, dan bisa juga menyebabkan gejala seperti mual, muntah, serta kepekaan terhadap suara dan cahaya. Bagi kaum wanita, migrain lebih mungkin menyerang mereka 3 kali lipat dibandingkan dengan pria.

Headband yang dipakai di dahi ini adalah perangkat pengobatan pertama di AS yang disetujui oleh FDA, meskipun alat ini bukan obat untuk sakit kepala parah, namun pihak produsen mempercayai bahwa itu bisa menghentikan rasa sakit dari transisi "episodik" migrain sampai dengan kesakitan yang lebih parah, atau dalam kategori "kronis.”

Menurut managing director Cefaly Technology, headband pengobatan migrain ini, sebelumnya telah beredar di pasar Eropa, dan telah lama menantikan persetujuan dari FDA – Yang menurutnya akan membuka jalan untuk kenaikan penjualan sekitar 25 persen dalam kurun waktu hingga lima tahun kedepan.

Pengobatan migrain non obat dan perangkat non medis ini diperkirakan akan cukup memukul pasar industri farmasi, bila nantinya para ahli medis lebih mempercayai untuk meresepkan Cefaly bagi pasien penderita migrain.

Sementara itu, Giles Elrington, direktur medis dari Migraine Centre National, suatu pusat badan penelitian amal di Inggris, mengatakan, bahwa teknik penargetan pada kepala pasien, akan berbeda dengan penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi seluruh tubuh, ini akan menjadi "daerah besar untuk berkembang pada tahun-tahun mendatang," ujarnya menanggapi pengobatan migrain dengan alat sejenis headband tersebut.



Author: Google Plus

Kontoversi Obat Baru Penahan Nyeri Hydrocodone di AS

Obat baru penahan nyeri yang baru saja mendapat persetujuan dari FDA (Food and Drug Administration) AS, terus bergulir memanas menuai kontroversi.



Obat baru penahan nyeri yang mendapat persetujuan dari FDA itu adalah obat berbasis Hydrocodone atau jenis obat penahan nyeri dan rasa sakit terbaru, yang disebut analgesik opioid dengan dosis tinggi. Mengutip sumber dari CNN, FDA, suatu badan pemerintah pemerintah yang berwenang memberikan persetujuan serta mengawasi peredaran obat dan makanan, kabarnya telah menyetujui peredaran obat tersebut pada musim gugur lalu untuk siap edar pada bulan Maret ini. 

Obat penahan nyeri Hydrocodone dosis tinggi ini memang kabarnya cukup ampuh untuk mengatasi rasa nyeri, terutama pada nyeri kronis.

Namun sebuah koalisi masayarakat, yang terdiri dari sekitar 40 orang perawat medis, konsumen, serta kelompok korban kecanduan obat, berupaya tetap mendesak FDA, segera mencabut persetujuan obat baru penahan nyeri buatan farmasi Zohydro tersebut. Kelompok itu mengecam keras obat penahan nyaeri opioid dosis tinggi itu, yang disebutkan oleh mereka sebagai “berbahaya,” dalam surat yang mereka layangkan kepada Komisioner FDA, Dr. Margaret Hamburg.
Obat penahan nyeri tersebut, menurut mereka, "Terlalu banyak orang telah menjadi kecanduan obat-obatan opioid yang sama, dan terlalu banyak nyawa dipertaruhkan". Seementara FDA sendiri justeru telah menyetujui peredaran pil yang disebut sebagai “pil menakutkan” itu ditengah ramainya kontroversi penggunaan Acetaminophen bagi ibu yang sedang hamil -- Dan kini tengah dipertanyakan keamanannya oleh masayarakat di AS.

Dr. Andrew Kolodny, Presiden dari kelompok grup advokasi, Physicians for Responsible Opioid Prescribing bahkan mengecam keras penggunaan obat ini, ia mengatakan "Ini akan membunuh orang secepat itu juga pada saat dirilis." Sebelumnya pada Desember tahun lalu, 29 pengacara negara juga telah mengirim surat yang sama ke FDA. Sementara itu pada bulan lalu, anggota Kongres AS juga telah meminta FDA untuk meninjau ulang keputusan persetujuan peredaran obat tersebut.

Keprihatinan yang sama soal obat penahan nyeri baru tersebut juga disuarakan oleh kalangan masyarakat luas, terkait dengan potensi pada penyalahgunaan obat. Mereka mengutarakan ketakutan mereka, bahwa Zohydro – Terutama pada penggunaan dosis yang lebih tinggi – justeru akan memperkuat pamor obat yang sedang naik daun itu dengan sebutan overdosis. 

Sementara itu, situs petisi internasional, Change.org juga mengecam, dengan mengatakan "Ini bisa menjadi OxyContin berikutnya," dan mendesak FDA untuk mempertimbangkannya kembali peredaran obat penahan nyeri tersebut. Mereka menilai bahwa negara dianggap telah gagal untuk mengekang penyalahgunaan obat-obatan yang diresepkan secara resmi oleh dokter.

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, kematian akibat resep opioid, naik lebih dari 4 kali lipat sejak tahun 1994. Ada sekitar 4.030 kematian terkait dengan obat-obatan tersebut pada tahun 1999, dibandingkan dengan angka kematian 16.651 pada tahun 2010.

Sementara itu pihak produsen Zohydro, Zogenix dan FDA justeru menegaskan manfaat obat itu lebih besar dibandingkan dengan resikonya. Bantahan langsung datang dari Dr Brad Galer, wakil presiden eksekutif dan kepala medis Zogenix, dalam sebuah e –mail, ia mengatakan "Kami tidak berharap pengenalan Zohydro ER diperpanjang, untuk meningkatkan penggunaan keseluruhan opioid. Bahkan, data resep dari lima tahun terakhir menunjukkan bahwa total penggunaan opioid ER adalah konstan dan independen dari pendatang baru di pasar," bantahnya.

Galer menegaskan, perusahaan akan memfokuskan upaya komersial pada sekelompok kecil dokter yang telah berpengalaman baik dengan resep opioid, sehingga hanya pasien yang sakit kronis dan pasien yang tepat sajalah yang akan menerima resep obat penahan nyeri opioid.

Sementara itu dukungan terhadap obat baru opiod itu juga datang dari pendiri dan Presiden U.S. Pain Foundation, Paul Gileno, yang mengatakan, "Kita tahu bahwa orang yang datang dengan rasa sakit bukanlah pelanggaran obat. Seseorang dengan rasa sakit adalah orang yang menderita yang bisa mendapatkan pereda rasa nyeri untuk hidup kehidupan yang memuaskan." katanya. U.S. Pain Foundation sendiri adalah sebuah kelompok yang selama ini menerima beberapa dana dalam bentuk hibah tak terbatas dari industri farmasi.  Seseorang dengan rasa sakit adalah orang yang menderita untuk mendapatkan pereda nyeri untuk hidup kehidupan yang memuaskan."

Dalam permohonannya kepada FDA untuk mendapatkan persetujuan pada obat baru penahan nyeri itu, perwakilan dari Zogenix menyebutkan contoh-contoh dari pasien yang mungkin mendapatkan manfaat dari Zohydro, antara lain: seorang laki-laki, berusia 46 tahun dengan sakit punggung kronis dan kesakitan pada kaki, yang telah dua kali gagal dalam operasi, seorang wanita berusia 52 tahun dengan metastasis kanker payudara dan mengalami kesakitan yang hebat, serta seorang wanita berumur 32 tahun, dengan beberapa patah tulang ortopedi.

Sementara itu, MedPage Today melansir, bahwa pernyatan FDA sendiri dinilai kontradiktif dan membingungkan, karena mereka pada Oktober tahun lalu, mengatakan akan menggeser obat yang mengandung hydrocodone dan akan ditinjau ulang, sambil menunggu persetujuan otoritas dari DEA (Drug Enforcement Administration) yang diartikan akan lebih diperketat lagi pengeluaran resep aturan untuk produk yang mengandung hydrocodone. Namun justeru hanya berselang satu hari kemudian, FDA malah mengumumkan persetujuan peredaran hydrocodone.

"Mengejutkan, keterlaluan dan benar-benar menakutkan," tandas Dr. Andrew Kolodny dari Physicians for Responsible Opioid Prescribing mengenai kontroversi obat baru penahan nyeri tersebut. Namun juru bicara FDA, Morgan Liscinsky, mengatakan bahwa persetujuan Zohydro adalah terpisah dan berbeda dari rekomendasi FDA tentang penjadwalan ulang produk yang mengandung hydrocodone.

Seementara itu, Dr. Alex Cahan, professor dari University of Washington di Seattle, yang tidak terlibat dalam petisi, mengatakan bahwa, "Risiko –berpikir manfaatnya untuk menyarankan, bahwa itu tidak semua bisa kita lakukan, kita harus melakukannya."

Obat baru penahan nyeri Zohydro akan memasuki pasar, sesuai klasifikasik sebagai Jadwal II – adalah salah satu alasan baik FDA, dan produsen obat telah meyakinkan hal itu tidak akan memberikan kontribusi terhadap masalah overdosis yang lebih luas. Pelabelan Zohydro sendiri akan menampilkan peringatan tentang penyalahgunaan dan efek kecanduannya. 

Galer mengatakan Zogenix, akan bekerja dan mengawasi pada versi penyalahgunaan obat penahan nyeri tersebut. Sementara Zohydro sendiri dijadwalkan akan mulai tersedia di pasar dalam tiga tahun mendatang.

Author: Google Plus

Pengobatan Kanker Besar Dengan Kolonoskopi Berhasil Di Amerika

Pengobatan kanker usus besar dengan kolonoskopi telah berhasil menurunkan sekitar 30% pengidap kanker usus besar pada pasien berusia diatas 50 tahun di Amerika Serikat.




Menurut American Cancer Society, pengobatan kanker besar dan deteksi dini dengan kolonoskopi ini, pada penelitian terbaru, menunjukan bahwa tampaknya AS telah berhasil menurunkan sekitar sepertiga pasien penderita kanker usus besar, pada periode 2000-2010. Namun disisi lain membuat harga kolonoskopi  untuk orang dewasa berusia antara 50 s/d 75 tahun mengalami kenaikan tajam dari 19%, pada tahun 2000, menjadi 55% pada tahun 2010.



Sementara itu, mengutip sumber dari Philly.com, pengobatan kanker besar dengan skrining kolonoskopi potensial telah menyelamatkan banyak nyawa. Namun sayangnya, Dr Richard Wender , kepala pengendalian kanker di American Cancer Society, mengatakan dalam sebuah rilis berita di masyarakat,  sekitar 23 juta orang dewasa berusia antara 50-75 tahun tidak mendapatkan manfaat itu, karena tidak up date pada skrining.

Ahli kanker lain, Dr Arun Swaminath, direktur penyakit radang usus di Lenox Hill Hospital di New York City, menyetujui pendapat itu, "Teknologi skrining kami tampaknya telah mencegah kanker berkembang - biasanya dengan mendeteksi dan menghapus polip sebelum mereka bertumbuh menjadi kanker - atau menangkap kanker pada tahap awal, sehingga pasien punya kelangsungan hidup yang jauh lebih baik," ujarnya.

Dr Arun Swaminath menambahkan, "Sepanjang tahun 2014 , diperkirakan ada sekitar 135.000 diagnosis baru kanker usus besar (di Amerika Serikat) , namun kami berharap untuk mendapatkan nomor yang lebih dekat ke angka nol, dengan mendapatkan akses resiko ke masyarakat untuk skrining kanker colorectal pada tahun-tahun mendatang," katanya berharap.

Terkait pengobatan kanker usus besar ini, analisis data baru dari data nasional AS, mengungkapkan bahwa tingkat kanker usus besar secara keseluruhan mengalami penurunan rata-rata 3,4 persen per tahun antara 2001 sampai dengan  2010. Namun masih ada perbedaan substansial dalam berbagai kategori kelompok umur. Ada penurunan sekitar 3,9 persen per tahun bagi mereka yang berusia diatas 50 tahun, tetapi naik 1,1 persen per tahun pada orang-orang muda, yang berusia dibawah 50 tahun.

Cancer Society mencatat, terjadinya kenaikan pada usia muda ini, kemungkinan disebabkan karena meningkatnya tingkat obesitas dan kebiasaan pola makan yang buruk.

Sementara angka penurunan terbesar pada penderita kanker usus besar, terjadi pada mereka yang berusia 65 tahun atau lebih. Tingkat penurunannya meningkat, dari 3,6 % per tahun pada 2001-2008, menjadi 7,2% per tahun, sejak 2008 hingga 2010. Hal ini mungkin karena tingkat skrining yang lebih tinggi diantara para anjut usia yang mendapat perawatan Medicare lebih baik.

Menurut penelitian yang diterbitkan pada edisi Maret / April oleh CA: A Cancer Journal for Clinicians, pada tahun 2010 , sekitar 64 persen orang Amerika berusia diatas 65 tahun telah menjalani tes skrining kanker colorectal baru-baru ini, dibandingkan dengan 55 persen orang dewasa berusia antara 50 sampai 64 tahun.

Efek Pengobatan kanker usus besar pada ras minoritas

Para peneliti juga menemukan bahwa kematian akibat kanker usus besar mengalami peningkatan yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Dari tahun 2001 sampai 2010, angka kematian mengalami penurunan sekitar 3 persen per tahun, dibandingkan dengan penurunan sekitar 2 persen per tahun pada periode 1990-an. Para ahli kanker usus besar lainnya berpendapat laporan baru ini akan banyak mendorong perkembangan, namun juga menunjukan masih banyak lagi pekerjaan yang harus dilakukan. 

Sementara itu, Dr Rajiv Sharma, ahli onkologi radiasi di North Shore - LIJ Cancer Institute di Lake Success , New York mengatakan, "Upaya kontinuitas terus meningkatkan ke akses universal untuk skrining, pendidikan, dan terbaik (perawatan kanker) adalah praktek yang penting, " katanya.

Dr Fadi Braiteh, seorang ahli onkologi dari Comprehensive Cancer Center of Nevada, mencatat bahwa, "setiap hari, pada tahun ini, ada sekitar 375 orang akan didiagnosis menderita kanker usus besar dan sekitar 130 diantaranya diperkirakan akan meninggal akibat penyakit tersebut."

Sementara itu, pada setiap tahapan, para peneliti juga dibuat bingung pada pengobatan kanker usus, dengan hasil yang lebih buruk yang dialami oleh kelompok minoritas, seprti afro amerika dan asia, dibandingkan dengan mereka ras kulit putih. Hal ini tidak dijelaskan secara eksklusif oleh pelayanan kesehatan, yang kemungkinan mengarah pada perbedaan biologis yang mendasari kemungkinan mengidap kanker usus besar.

Keberhasilan pengobatan kanker besar ini ditulis oleh para peneliti dari American Cancer Society, sebagai upaya baru oleh National Kanker Kolorektal Roundtable untuk meningkatkan tingkat skrining hingga mencapai 80 persen pada tahun 2018.


Author: Putra Dedy 

Tes Darah Lengkap Deteksi Dini Gejala Penyakit Alzheimer



Tes darah lengkap untuk pertama kalinya dalam sejarah penelitian mampu deteksi dini gejala penyakit Alzheimer melalui 10 jenis lipid dan lemak yang beredar di dalam darah.

Menurut para peneliti, tes darah lengkap ini bisa memprediksi secara akurat, pada seseorang yang berpotensi untuk bisa mengembangkan penyakit Alzheimer, dan bisa menyebabkan kehilangan memori serta mengalami penurunan fungsi mental secara drastis dalam 2 atau 3 tahun yang akan datang.



Pada deteksi dini gejala penyakit Alzheimer ini, paara peneliti mengatakan, temuan tes skrining darah lengkap ini ini diprediksikan bisa tersedia dalam waktu dekat, atau sekitar 2 tahun lagi.

Sampai dengan saat ini masih belum ditemukan pengobatan yang efektif dan handal untuk mengobati Alzheimer. Mengutip sumber dari LA Times, para penulis menyarankan, Biomarker (penanda) darah pada skrining tes darah lengkap, bisa mendeteksi dini dan mengidentifikasi mereka yang beresiko terserang penyakit Alzheimer, bahkan sebelum gejala penyakit Alzheimer tersebut berkembang, seperti yang di tulis para peneliti di Jurnal Nature Medicine.   

Deteksi Dini Gejala Penyakit Alzheimer



Dengan deteksi dini penyakit Alzheimer melelaui tes darah lengkap ini, diharapkan masyarakat dapat membuat pilihan alternatif untuk metode pengobatan baru. Sebab dengan tindakan intervensi, bisa untuk mencegah atau memperlambat terjadinya penurunan fungsi kognitif, sebelum akhirnya terbukti menjadi kenyataan. Hal ini mungkin ini akan lebih efektif, daripada tindakan intervensi yang dilakukan kemudian pada saat Dementia telah berkembang
                                
Para peneliti dari University of Rochester, Georgetown University dan University of California, Irvine, AS ini tidak memulai penelitian dengan daftar kemungkinan biomarker, namun mereka merekrut 525 orang subyek penelitian lansia yang telah berumur minimal 70 tahun. Lalu tim mulai meneliti tes darah lengkap mereka serta menunggu lebih lanjut, untuk melihat, subyek mana yang akan berpotensi mengembangkan penyakit Demensia.

Hasilnya menunjukan 46 orang subyek didiagnosa dengan penyakit Alzeimer pada saat studi pertama dimulai, dan sebanyak 28 orang diperkirakan akan mengembangkan penyakit Alzheimer ringan, atau menderita gangguan kognitif ringan, suatu kondisi yang kerapkali menjadi penanda dan gejala penyakit Alzheimer.

Kemudian para peneliti membandingkan sampel darah 53 orang dari 74 subyek penelitian, dimana 53 orang subyek yang telah diidentifikasi secara tepat yang telah berkembang menjadi kelainan kognitif. Analisis dengan deteksi dini gejala penyakit Alzheimer tersebut telah  memungkinkan mereka untuk bisa mengidentifikasi perbedaan yang terukur diantara kelompok dalam 10 lipid yang berbeda.

Pada deteksi dini gejala penyakit Alzheimer, 10 lipid yang diidentifikasikan sebagai pertanda gejala penyakit, tampaknya terlihat sebagai hasil adanya pemecahan membran sel saraf, suatu proses yang mempercepat terjadinya penyakit Alzheimer.

Kemudian mereka memasukannya kedalam daftar lipid, dan mengungkapkan, 41 orang yang direkrut, 21 orang diantaranya telah mengembangkan Alzheimer pada tahap awal pada studi ini, dan 20 orang lagi tidak. Kemudian para peneliti mencoba untuk memilah subyek dengan benar, berdasarkan tes darah mereka sendiri. Mereka menemukan tingkat akurasinya mencapai lebih dari 90%.

Melalui tes darah lengkap ini berhasil mendapatkan tingkat akurasi yang setara dengan tes yang dilakukan dengan cara mengukur cairan cairan serebrospinal untuk bukti protein abnormal yang merupakan ciri khas dan penanda gejala penyakit Alzheimer.

Tetapi karena dilakukan dengan tes darah, hasilnya dan biayanya menjadi jauh lebih murah dan kurang invasif dibandingkan dengan melakukan tes pada tulang belakang, yang memungkinkan membuat skrining ini untuk masyarakat serta jauh lebih praktis.

Di antara isu-isu yang masih harus diselesaikan antara lain adalah,: bagaimana mengungkapkan 10 lipid panel darah pada skrining dalam populasi yang lebih besar dan pada pasien yang lebih beragam, serta seberapa sensitif dan spesifik seperti ditunjukan pada skrining. Saat ini diketahui telah banyak tes yang mampu mengidentifikasi 100% dari orang yang sakit dengan penyakit tertentu (sangat sensitif), namun sebeliknya mereka juga teridentifikasi palsu, sebanyak penyakit yang sebenarnya tidak diderita oleh mereka (tidak sangat spesifik).

Secara ekonomis, bila seorang yang sudah didiagnosis positif menemukan gejala penyakit Alzheimer, maka mereka mungkin akan mengeluarkan biaya perawatan yang mahal. Namun sebagai catatan penting, penetapan tes 10 lipid ini tidak memiliki kemungkinan yang sangat tinggi, pada kemungkinan tingkat tes “positif palsu,” atau dengan kata lain sangat kecil kemungkinannya terdeteksi sebagai penyakit palsu.

Pada saat ini, Alzheimer bisa dikategorikan sebagai penyakit penyebab mematikan ke 6 di AS, sebab hasil beberapa penelitian terkait yang telah dilakukan, menunjukan bahwa penyakit Alzheimer dianggap bertanggung jawab pada banyak kasus kematian yang terjadi di Amerika Serikat, daripada yang diperkirakan orang sebelumnya.

Sementara itu, pada studi belum lama berselang yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology, menemukan, bahwa angka kematian tahunan akibat penyakit Alzheimer diperkirakan telah mendekati angka hingga sekitar 500.000 kematian, dibandingkan dengan sekitar 83.000 kematian pada saat ini, berdasarkan perhitungan pemerintah. Dimana diperkirakan terdapat sekitar 5 juta penduduk mengidap penyakit Alzheimer di Amerika Serikat.

Diharapkan melalui tes darah deteksi dini gejala penyakit Alzheimer ini, mampu menekan perkembangannya, atau setidaknya mampu memperlambat munculnya penyakit yang tergolong mematikan ini.


Author: Google Plus